Analisis : Bagaimanakah Keadaan Suriah Saat Ini Pasca Lima Tahun Konflik?

Damaskus � Lima tahun yang lalu, tidak ada yang menyangka aksi damai warga Suriah pada Maret 2011 silam terhadap pemerintahan Rezim Bashar Assad berujung pada pecahnya konflik panjang hingga saat ini.
Aksi protes sekedar menuntut keadilan, dibalas Rezim dengan merenggut nyawa lebih dari seperempat juta sipil Suriah. Semenjak itu, dataran Suriah menjadi kobaran api amukan Assad. Memicu situasi tersebut, populasi penduduk terus menyusut lantaran kematian dan gelombang imigrasi.
Namun, berdasarkan data yang dihimpun BBC pada 15 Maret 2016, sekitar 18 juta orang masih bertahan hidup di negara yang dilanda perang itu. Lalu bagaimanakah nasib mereka saat ini?
Berdasarkan fakta yang dikumpulkan oleh sejumlah jaringan aktivis Suriah, dijelaskan bahwa suasana perang, kematian, luka, teror, dan reruntuhan sangat akrab di kehidupan sipil Suriah. Hampir di setiap kota, masyarakat mengerti siapakah dan dimanakah orang yang tewas kala itu, meski tidak tahu pasti jumlah seluruhnya.
Menurut jaringan aktivis di Suriah, jumlah korban perang di Suriah dapat dikelompokkan dalam bebrapa periode:
Pertama, era baku tembak. Masa ini dimulai sejak awal protes massal menentang rezim Suriah pada Maret 2011 silam, yang kemudian berujung pada kekerasan, setelah rezim Suriah melancarkan serangan berlebihan terhadap penduduknya.
Kedua, era mortir. Periode ini merupakan masa terberat dalam konflik Suriah yang dimulai pada tahun 2012. Dimana operasi pembunuhan menjadi sangat sistematis dan mengakibatkan korban dalam jumlah terbesar. Serangan mortir diklaim telah menjatuhkan banyak korban jiwa.
Ketiga, era jet pembom. Seiring waktu, perang darat telah menghantarkan pihak oposisi menguasai sebagian besar wilayah Suriah. Hal inilah yang memicu tentara rezim pada akhirnya mengunakan jet dan angkatan udaranya. Ditambah lagi, tatkala datangnya jet Rusia pada September 2015, turut menjadi mesin pembunuh massal di Suriah. Tercatat jumlah kematian terbanyak disebabkan karena serangan udara.
Lantas Berapakah Sisa Penduduk di Suriah?
PBB memperkirakan jumlah orang yang masih hidup di Suriah sekitar 17,9 juta jiwa. Jumlah ini turun drastis, dari 24,5 juta populasi sebelum pecahnya perang. Dari jumlah itu, enam juta di antaranya diklasifikasikan sebagai pengungsi di dalam negara Suriah.
Kondisi hidup sipil di Suriah cukup memprihatinkan. Meskipun di beberapa daerah di Damaskus, orang-orang tampak hidup seperti biasanya. Tapi di sejumlah daerah lainnya mereka hidup menderita. PBB mengatakan 13,5 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sementara itu sekitar 4,5 juta hidup di wilayah yang sulit diakses dan daerah blokade, seperti Deir Az-Zour.
Sektor Perekonomian Suriah Menurun Drastis
Perang selama lima tahun telah menghambat perkembangan ekonomi Suriah. Dikarenakan banyaknya anggaran negara yang dihabiskan untuk membiayai perang. Tercatat, sekitar $225 Miliyar dihabiskan Rezim dalam waktu lima tahun.
Selain itu, faktor pengangguran menambah keterpurukan ekonomi Suriah. Jumlah pengangguran bertambah hingga lebih dari 15% dari jumlah pengangguran pada 2011 yang hanya 14%. Akibatnya, sekitar 70% penduduk hidup dalam kemiskinan, dan tidak memiliki makanan pokok dan apalagi sekedar cemilan.
Situasi perekonomian terus diperburuk dengan jatuhnya sektor pertanian Suriah, yang dulunya merupakan andalan negara itu. Keterpurukan perekonomian dan segala faktor pendukungnya, menyebakan terjadinya kasus kelaparan.
Ketika Kelaparan menjadi Senjata Mematikan
Seiring berlanjutnya perang, kiranya kasus kelaparan pun telah menjadi senjata mematikan. Sebagian besar penduduk di daerah blokade dan di luar itu, bertahan hidup dengan bahan makanan yang dibeli dari pasar gelap milik rezim Suriah. Pemerintah Bashar Assad telah merampas bantuan kemanusiaan dan dijual dengan harga tinggi di pasar gelap tersebut.
Dengan menurunnya tingkat produksi makanan dan minimnya penyaluran bantuan, semakin mempersulit kehidupan sipil Suriah. Tidak hanya itu, sistem blokade rezim betul-betul memanfaatkan momentum kelaparan sebagai senjata mematikan.
Misalnya, roti yang merupakan salah satu kebutuhan di tanah Arab dan makanan pokok lainnya, yang pengadaannya didukung oleh negara. Namun semenjak pecahnya perang, pemerintah Suriah hanya menyejahterakan pendukungnya saja meskipun sama-sama dari kalangan sipil.
Di lain sisi, setelah pasukan rezim kehilangan kontrol di sejumlah wilayah yang ditumbuhi gandum, Assad menghentikan seluruh pasokan makanan ke rakyatnya. Presiden Bashar Assad terpaksa mengimpor gandum dari Rusia dan Ukraina sehingga menjadikan wilayah dihidupi pendukungnya relatif stabil, seperti ibukota Damaskus.
Di Suriah, Menjadi Pekerja Medis Juga Terancam
Aturan perang tampaknya tidak berlaku di Suriah. Dengan meningkatnya korban akibat serangan ataupun penyakit, medis menjadi sektor yang sangat dibutuhkan di Suriah. Namun situasi perang yang melanda Suriah tidak bisa pilah-pilih, medis di Suriah juga rentan terhadap serangan.
Antara Maret 2011 dan November 2015, Lembaga kedokteran HAM telah mencatat 336 serangan terhadap 240 lembaga medis di Suriah. Serangan itu telah menyebabkan kematian sedikitnya 697 tenaga medis.
Jumlah tenaga medis turun drastis sampai 55% dari jumlah sebelum perang. Fasilitas medis pun menjadi sukar ditemukan. Dimana saat ini sekitar 40% populasi masyarakat setempat terhambat mendapatkan akses kesehatan. Lebih lagi, sebanyak 58% dari 113 rumah sakit umum di Suriah mengalami kerusakan, atau tidak beroperasi lantaran kehilangan tenaga medis.
Melirik ke Sekolah-Sekolah di Suriah
Ribuan anak-anak tewas sejak 2011. Ditambah lagi mereka ada yang mengungsi ke daerah yang lebih aman. Sedikitnya satu juta anak sejak 2010, putus sekolah lantaran situasi di Suriah. Sedangkan 40% anak- anak masih tinggal di Suriah, tetapi mereka tidak sekolah.
Perang telah menghancurkan sistem pendidikan di Suriah. Dimana satu dari empat sekolah di Suriah hancur, atau menjadi rumah pengungsi atau justru menjadi markas militer.
Bahkan meskipun bangunan sekolah tetap utuh, tetapi proses KBM tetap tidak bisa dilaksanakan, lantaran lebih dari seperempat guru di negara itu telah pergi meninggalkan Suriah.